Home » NU Jangan Retak: Seruan Persatuan dari Tanah Betawi

NU Jangan Retak: Seruan Persatuan dari Tanah Betawi

Oleh Peci Merah

Orang Betawi sejak dulu dikenal lekat dengan tradisi para kiai, mencintai ilmu, menjaga adab, dan teguh mengikuti jejak para ulama Nahdlatul Ulama. Dari langgar, majelis ta’lim, hingga kampung-kampung tua Betawi, NU bukan hanya organisasi tapi nafkah ruhani, warisan yang dibawa turun-temurun oleh para guru yang penuh keikhlasan.

Karena itu, di tengah berbagai gejolak dan dinamika internal yang menerpa NU hari-hari ini, kita harus tetap teguh pada satu hal:

NU mesti dijaga, bukan dipertentangkan.
NU mesti dirawat, bukan dirusakkan.
NU mesti disatukan, bukan dipecah-pecah.

Perbedaan pendapat adalah bagian dari perjalanan organisasi besar, tetapi jangan sampai perbedaan menjadikan hati kita retak, apalagi membuat hubungan antar jamaah renggang. Kita semua harus kembali pada pesan para kiai besar:
“Kalau ada masalah, selesaikan dengan adab. Kalau ada perbedaan, tempuh jalan musyawarah. Kalau ada kegaduhan, ambil sikap yang menenangkan umat.”

Ingatlah, kekuatan NU bukan hanya pada struktur, bukan hanya pada nama besar, tetapi pada kebersamaan kita, pada keteguhan kita menjaga akidah Ahlussunnah wal Jama’ah, dan pada keikhlasan kita merawat persatuan di akar rumput.

Mari warga Betawi dan seluruh nahdliyyin di mana pun berada:
jangan biarkan NU retak, jangan biarkan NU pecah.
Yang harus pecah hanyalah kebodohan, kesombongan, dan fitnah bukan organisasi yang diwariskan para wali dan ulama.

Pegang erat pesan guru-guru kita:
“NU ini bukan milik satu orang, bukan milik satu kelompok. NU milik umat. Maka jagalah dengan hati yang lapang dan jiwa yang tenang.”

Semoga Allah meneguhkan persatuan kita, meredakan segala gejolak, dan menguatkan NU agar tetap menjadi pagar umat dan pelita bangsa.

Mualim Tekko guru zuki

Penulis : ristian
Sumber : www.pecimerah.org
Rumah Peradaban PeciMerah Betawi

You may also like

Tinggalkan komentar